Total Tayangan Halaman

Senin, 15 Oktober 2018

Dari Nalar Jihadis-Ekstrimis ke Nalar Islam Pluralis


Judul buku   : Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia
Penulis           : Aksin Wijaya
Penerbit        : Mizan, Bandung
Cetakan         : Pertama, Juni 2018
Tebal              : xxx + 262 halaman
ISBN               : 978-602-441-067-4
Peresensi      : Mahmudi*

DARI NALAR JIHADIS-EKSTRIMIS KE ISLAM PLURALIS

Buku ini berangkat dari kegelisahan penulisnya yang sering melihat kekerasan atas nama agama. Kekerasan itu dinamakan agamaisasi kekerasan. Pelakunya seakan tidak berdosa dan berharap suatu saat akan mendapatkan surga serta bidadari. Hal itu sering kita jumpai, misalnya terjadinya bom bunuh diri atas nama agama. Terjadilah radikalisasi agama yang merajalela di Indonesia.
Disini Aksin berusaha mengupas secara detail akar dari kekerasan agama tersebut. Buku ini merupakan penelitian mendalam yang serius terkait nalar kekerasan atas nama agama. Yang diteliti oleh Aksin adalah akar nalar beragama. Untuk membedah geneologi kekerasan agama, Aksin membuat pemetaan dengan beberapa kata kunci: Nalar agama, Nalar pemerintahan, dan Nalar Jihad. Dari ketiga kata kunci tersebut, Aksin menelusuri tokoh-tokoh yang melahirkan ketiga nalar tersebut. Tokoh tersebut berasal dari masa Islam klasik hingga Islam modern.
Geneologi nalar pemikiran Islam fundamental atau lebih dikenal dengan nalar Jihadis-Ekstrimis dapat ditemukan dari tokoh Abdul Wahhab di Arab Saudi, yang menjadi basis gerakan Wahhabi. Nalar keislaman Abdul Wahhab, sesuai penelusuran Aksin, bersumber pada nalar Islam klasik kaum Khawarij. Selain Abdul Wahhab, nalar Islam Jihadis-Ekstrimis dapat ditemukan dalam pemikiran Abu al A’la al Maududi dan Sayid Qutub. Kedua tokoh tersebut memiliki nalar agama yang keras dan cenderung melahirkan perang.
Kaum Jihadis-Ekstrimis menurut Aksin memiliki nalar agama secara literal-takfiri. Mereka cenderung berpikir secara oposisi biner. Logika berpikirnya mengandaikan benar-salah, hitam-putih, dan muslim-kafir. Tidak ada kebenaran jalan ketiga dalam cara berpikir mereka. Kebenaran adalah tunggal dan monolitik. Bila pemikiran mereka dianggap benar, maka yang lain divonis salah. Corak pemikiran ini cenderung radikal, ekstrim dan fundamental sehingga memutuskan sesuatu dengan kekerasan.
Sedangkan nalar pemerintahan mereka menurut Aksin bercorak teosentris. Pemahaman mereka terkait pemerintahan harus berlandaskan Tuhan yang kita kenal dengan teokrasi. Sementara nalar jihad mereka adalah Jihad fi Sabilillah. Nalar ini identik dengan membela Tuhan dari pada manusia. Mereka memaknai kata Jihad dalam al Qur’an dengan Qital (berperang). Padahal menurut Aksin, makna Jihad selalu mengalami pergeseran makna (Shifting Meaning).
Selanjutnya Aksin menawarkan cara nalar baru yang lebih memihak manusia. Nalar tersebut dinamakan nalar antroposentris. Bila nalar teosentris cenderung memahami agama dengan literal-takfiri, maka nalar antroposentris cenderung membela manusia dengan memahami agama secara rasional. Nalar ini cenderung melahirkan pemahaman yang moderat. Nalar ini menurut Aksin sesuai dengan pemahaman keagamaan yang dimiliki NU dan Muhammadiyah. Sementara nalar literal-takfiri diasosiasikan pada kelompok HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) dan FPI (Front Pembela Islam).
Ketika ditelusuri, nalar agama yang moderat-rasional itu dapat ditemukan pada tokoh-tokoh berikut: Pertama, Sa’id al Asmawi. Ia bertolak pada dua unsur dalam menalar Islam: metode berpikir ilmiah dan metode memahami al Qur’an. Kedua, Haj Hammad. Nalar Islam yang dikembangkan Haj Hammad adalah metode epistemologi Qur’ani dan filosofis. Ketiga, Muhammad Syahrur. Nalar Islam yang dimiliki Syahrur adalah rasional-linguist. Ia menafsirkan al-Qur’an dengan metode kebahasaan dimana ia meyakini bahwa tidak ada sinonim di dalam bahasa. Ketiga tokoh tersebut memiliki nalar Islam yang sama, yakni Islam Pluralis. Nalar Islam Pluralis mengandaikan adanya sikap toleransi antar umat beragama. Sedangkan Nalar pemerintahan ketiga tokoh ini adalah demokrasi (Syura). Sedangkan Nalar Jihad mereka adalah Membela Manusia (antroposentris).
Menurut Aksin, Nalar antroposentris yang diwakili Muslim Pluralis (Syahrur, Asmawi, dan Haj Hammad) tersebut perlu dikembangkan di Indonesia. Penulis buku ini mengakui bahwa nalar Islam yang dimilikinya adalah nalar apresiatif-kritis yang sejalan dengan Nalar Islam Pluralis. Nalar ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh menganggap pemikiran kita yang paling benar. Namun, kita harus saling menghargai satu sama lain. Berangkat dari nalar ini, maka akan tercipta toleransi yang sesungguhnya.
Dengan demikian, sepatutnya nalar Islam Jihadis-Ekstrimis tersebut tidak berkembang di Indonesia. Sebab, Indonesia telah menganut ideologi Pancasila yang telah final. Masdar Hilmy, pakar studi keislaman UIN Sunan Ampel mengatakan bahwa kelompok Islam Jihadis-Ekstrimis sebenarnya adalah kelompok impor yang tidak patut berkembang di Indonesia. Sebaliknya, visi etis-humanis dalam bernegara perlu mendapatkan perhatian bersama. Buku ini mengajak kita untuk hidup saling menghargai, empati, dan toleran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar