Total Tayangan Halaman

Minggu, 25 November 2018

Koran Jakarta, Jumat 16 November 2018



URGENSI KEADILAN BERSAMA YANG-LAIN
                                                                                         
Judul buku       : Mencari Keadilan Bersama Yang-Lain: Pandangan Etis-Politis Emmanuel Levinas
Penulis             : David Tobing
Penerbit          : Cantrik Pustaka
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 208 halaman
ISBN                 : 978-602-6645-87-6
Peresensi         : Mahmudi*

Saat ini kita hidup dipengaruhi oleh paradigma egologi yang sangat tinggi. Paradigma egologi adalah suatu kehidupan yang lebih mengedapankan ego diri dan kesuksesan tinggi tanpa menghargai Yang Lain. Paradigma egologi ini menyebabkan manusia mengalami keterasingan, depresi, dan ketegangan hidup yang tak terkendali.

Pada situasi politik saat ini, tentu paradigma egologi sangat tidak diharapkan terjadi. Sebab, politik seperti itu akan menyebabkan manusia saling sikut kanan kiri, tanpa menghargai orang lain. Yang ada hanyalah kesuskesan, kekuasaan, dan kebrutalan politik tanpa kompromi. Kasus Ratna Serumpaet salah satu bukti ketegangan politik yang merajalela di Indonesia.
Buku yang ditulis David Tobing ini menghadirkan kontribusi pemikiran yang nyata terkait bagaimana seharusnya manusia hidup berdampingan dengan Yang Lain. David Tobing membidik pemikiran Levinas untuk diambil saripatinya dalam merumuskan prinsip hidup di dunia ini. Buku ini sangat relevan di tengah situasi politik yang tidak menentu di Indonesia.
Menurut Levinas sebagaimana disinyalir Tobing, manusia hidup di dunia tidak hanya berhenti di ego diri dan rasionalitas dirinya saja. Namun, manusia hidup sejatinya berdampingan dengan Yang Lain. Pertanyaannya, mana yang diprioritaskan antara dirinya dengan Yang Lain? Dalam perspektif Levinas, Yang Lain atau orang lain harus lebih didahulukan ketimbang diri kita sendiri. Levinas menyebutnya dengan gerak tanggung jawab antar sesama. Buku karya Levinas, Totality and Infinity merupakan buku primer yang dibedah oleh Tobing dalam menganalisa kehidupan manusia.
Ketika berpikir secara Totality, maka yang ada semua manusia dianggap benda lain yang harus tunduk di bawah pikirannya, di bawah kendali yang berpikir. Paradigma ini dipakai oleh Barat dalam memandang Timur. Menurut Levinas ini bukanlah sebuah keadilan. Ini tidak etis. Yang etis adalah ketika semua disetarakan. Antara aku yang berpikir dengan Yang Lain yang berada di luar dirinya. Prinsip kesetaraan berpikir tersebut oleh Levinas disebut Infinity. Inilah prinsip etika yang dikedepankan oleh Tobing dalam bukunya ini.
Gerak dari Totality ke Infinity menyebabkan peralihan dari momen egois ke momen etis. Dari yang awalnya manusia hanya memikirkan dirinya ke memikirkan nasib orang lain di luar dirinya. David Tobing menulis: Momen yang etis mengandung dua makna: pertama, momen yang etis adalah momen Yang- Lain menggugah Yang –Sama (Aku). Kedua, momen yang etis adalah momen pemilihan sang Aku sebagai pengada yang bertanggung jawab tanpa batas kepada yang lain (hal. 93).
Pada prinsipnya, manusia harus lebih mengutamakan orang lain ketimbang dirinya. Hal ini sepatutnya kita dapatkan pada konstelasi politik Indonesia. Sebab, carut marut dunia politik tidak lepas dari kehendak berkuasa para aktor yang seakan menegasikan orang lain di luar dirinya. Bila hal ini tetap terjadi, maka tunggulah kehancuran bangsa ini.
Dalam kehidupan politik yang tidak menentu saat ini dimana yang terjadi adalah egosentris dalam pemenangan kekuasaan, maka buku ini setidaknya memberikan arahan ke arah kebijakan publik, agar manusia berlaku adil bagi sesamanya. Inilah yang disebut dengan prinsip etis dalam hidup. Ketika kita memandang wajah Yang-Lain, kita sebenarnya memandang wajah sendiri yang layak dihormati dan dilayani dengan setara. Hal ini yang agaknya telah sirna dalam situasi politik bangsa saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar